Halaman

Senin, 27 Agustus 2012

Selama Proses Berlangsung





Ummul Mukminin 'Aisyah r.a. mengatakan:
"Pernikahan itu sangat sensitif
dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya."



Menikah adalah kesucian. Sangat besar kemuliaan di dalamnya. Sangat tinggi  kedudukannya  dalam  Islam,  sehingga  Al-Qur'an  menyebutnya sebagai mitsaqan-ghaliza (perjanjian yang sangat berat). Hanya tiga kali
kata ini disebut, dua untuk perjanjian tauhid. Maka, pernikahan yang diridhai Allah akan dipenuhi oleh doa malaikat yang menjadi saksi pernikahan.

Ketika akad nikah terjadi, halal apa-apa yang sebelumnya diharamkan. Apa yang sebelumnya merupakan maksiat dan bahkan dosa besar, sejak saat itu telah menjadi kemuliaan,  kehormatan  dan  besar  sekali  pahala  di  sisi  Allah.  Pernikahan  telah mengubah pintu-pintu dosa dan kekejian menjadi jalan kemuliaan dan kesempurnaan manusia dalam beragama. Allah menyempurnakan setengah agama ketika seseorang melakukan pernikahan.

Namun demikian, sebelum akad ada proses. Selama proses inilah setan berusaha memanfaatkan  momentumnya untuk menggoda dan merusak, sehingga pernikahan bergeser jauh dari makna dan tujuannya.

Proses menuju akad nikah banyak memberi pengaruh terhadap hubungan antara suami dan istri kelak setelah menikah. Demikian juga, hubungan antara dua keluarga, yaitu  keluarga  istri  dan  keluarga   suami,  banyak  dipengaruhi  oleh  proses  dari

peminangan hingga  akad  berlangsung.  Persepsi  dan  penerimaan  masing-masing anggota keluarga, banyak dipengaruhi oleh persoalan-persoalan qalbiyyah (hati, ter- masuk niat) ketika proses sedang berlangsung. Oleh karena itu, setelah peminangan, yang  perlu  kita  jaga  adalah  segala  hal  yang  dapat  merusak  makna  dan  tujuan pernikahan,  yang  mungkin  muncul  selama  proses  berlangsung.  Sebagian  proses berjalan dengan mudah dan sederhana. Sebagian harus menempuh proses yang pelik dan   rumit.  Sebagian  berlangsung  cepat  dalam  waktu  singkat,  sebagian  harus menunggu dalam waktu yang cukup lama.

Proses pernikahan  manakah  yang  terbaik?  Yang  terbaik  adalah  yang  paling maslahat   dan   barakah,  serta  jauh  dari  mafsadah  (kerusakan)  dan  bibit-bibit kekecewaan  yang  menjauhkan  orang  dari  rasa  syukur.  Proses  pernikahan  yang mendatangkan maslahat dan barakah bisa jadi berlangsung dengan mudah, bisa pula berlangsung melalui jalan yang pelik. Allah Maha Tahu apa yang  paling maslahat bagi  Anda.  Ketika  hujan  lebat  sedang  turun  dan  petir  menggelegar  sambut- menyambut, kalau Anda tidak berhati-hati, bisa tersambar oleh petir yang nyasar. Kalau Anda menjaga diri, istiqamah,  dan tawakal, insya-Allah Anda akan mendapati hujan sebagai pensucian bumi hati Anda. Sedang petir membawa muatan listrik yang menerangi.

Sesungguhnya, sepanjang yang saya ketahui, salah satu pandangan Islam tentang pernikahan adalah sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan. Anda harus memperhatikan keadaan hati Anda ketika akan melaksanakan. Sebab, di sinilah setan berusaha untuk menyimpangkan niat dan tujuan Anda. Islam menganjurkan kita untuk menyegerakan menikah, tetapi setan bisa mengambil bentuk yang mirip ketika kita tidak mau menunda-nunda tanpa alasan. Setan mengarahkan kita untuk bersikap tergesa-gesa. Khusus pembahasan mengenai menyegerakan dan tergesa-gesa, insya- Allah akan kita bicarakan pada bab berikutnya, Antara Menyegerakan dan Tergesa- gesa.

---

Kita seringkali tidak bisa membedakan, apakah kita melakukan sesuatu
karena persangkaan kita yang baik kepada Allah ataukah justru karena persangkaan kita
yang kurang tepat kepada-Nya.

---



Setan berusaha untuk merebut masa sebelum menikah, masa yang sangat rawan. Masa ini bisa  menyesatkan manusia jika tidak berhati-hati. Dengan demikian boleh jadi ia mendapati pernikahannya  kelak tidak sebagaimana harapannya, meskipun -- barangkali-- pasangan hidupnya sudah berperilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam

dan bahkan melakukan kebajikan-kebajikan dalam rumah tangga. Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang demikian.

Ada dua  hal  yang  perlu  kita  jaga  sejak  berangkat  meminang  (atau,  sejak datangnya  pinangan bagi seorang gadis) sampai dengan pelaksanaan akad-nikah. Pertama, menyangkut persangkaan kita kepada Allah. Ini yang paling rawan. Kedua, persangkaan dan persepsi kita terhadap  pernikahan dan calon pasangan hidup kita. Masalah kedua ini, banyak kaitannya dengan masalah  pertama. Jika masalah yang pertama tidak baik, masalah yang kedua sangat mungkin untuk ikut tidak baik.




Persangkaan Kepada Allah

Orang  yang  tampak  bersungguh-sungguh  ketika  berdoa,  bisa  jadi  karena keyakinannya bahwa Allah itu dekat. Allah Maha Mendengar doa orang-orang yang berpengharapan  kepada-Nya.  Ia  yakin  bahwa  Allah  memperhatikan  orang  yang datang kepada-Nya untuk mengadukan keluh-kesahnya  atau memohon pertolongan- Nya. Karena kemuliaan-Nya, maka adalah kelayakan bagi manusia untuk  berdoa secara sungguh-sungguh sekaligus berhati-hati agar terjauh dari berdoa yang tidak layak, sekalipun Allah Sangat Luas Pemberian-Nya.

Meskipun demikian, bisa jadi orang tampak sangat bersungguh-sungguh ketika berdoa,  sampai  wajahnya  berkerut-kerut  dan  ekspresinya  berubah,  justru  karena ketidakyakinannya. Ia  mengkhusyuk-khusyukkan diri ketika berdoa, justru karena keyakinannya yang tipis bahwa Allah  Maha Mengabulkan doa orang-orang yang berpengharapan kepada-Nya. Ia menyangatkan diri ketika  memohon kepada Allah karena  khawatir  keinginannya tidak  tercapai,  padahal  ia  tahu  Allah  Maha  Besar Kekuasaan-Nya.

Sungguh, sangat jauh perbedaan antara kesungguhan doa orang yang yakin dan kesungguhan  orang yang berdoa justru karena kurang yakin terhadap kemurahan Allah. Orang yang sangat besar keyakinannya kepada Allah ketika berdoa bisa jadi sampai menangis, mengingat-ingat besarnya karunia Allah dan kecilnya amanah yang sudah  ia  tunaikan.  Orang  yang  berdoa  karena  kurngnya  keyakinan,   juga  bisa menangis.  Tetapi  jauh  sekali  perbedaannya.  Dan  berbeda  sekali  persangkaannya kepada Allah. Padahal, Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi:

"Aku   menuruti  persangkaan  hamba-Ku   kepada-Ku."   (HR   Bukhari   dan
Muslim).

Kita seringkali tidak bisa membedakan, apakah kita melakukan sesuatu karena persangkaan  kita  yang baik kepada Allah  ataukah karena persangkaan kita  yang kurang tepat kepada Allah Azza wa Jalla. Kita sering tidak bisa membedakan, kecuali setelah mengambil jarak dari masalah itu dengan pertolongan Allah. Dan datangnya pertolongan Allah, adakalanya sesuai dengan persangkaan kita mengenai pertolongan, bisa  pula  sebaliknya,  justru  nampak  berkebalikan  dengan  apa  yang  kita  anggap sebagai  cara menolong. Sungguh, rugi orang yang menyangka pertolongan Allah

sebagai pengabaian-Nya. Semoga kita terhindar dari prasangka yang tidak diridhai- Nya.

Pernikahan adalah salah satu amanah Allah bagi manusia yang beriman kepada- Nya.  Pernikahan  adalah  ketundukan  kita  kepada-Nya,  sekalipun  Allah  memberi tempat  kepada  perasaan-perasaan  manusiawi.  Justru,  Allah-lah  yang  memberikan perasaan-perasaan dan dorongan itu kepada manusia.  Sementara itu, setan berusaha untuk memanfaatkan momentum menjelang nikah, selama proses menuju pernikahan, justru untuk mengangkuhkan diri seolah Allah tidak memperhatikan. Padahal tidak ada yang bisa disembunyikan dari pengetahuan dan "penglihatan" Allah.

Pernikahan  adalah  amanah  Allah.  Dan  Allah  tidak  pernah  zalim  kepada makhluk-Nya.  Tidak pernah Allah memberikan amanah kepada manusia, kecuali Ia akan memberikan sarana untuk memenuhi amanah. Allah tidak pernah zalim. Maha Suci Allah dari kezaliman.

Setiap amanah  telah  dicukupi  dengan  sarana  yang  dengan  itu  orang  bisa melaksanakan  amanah-Nya,  dalam  hal  ini  melaksanakan  pernikahan.  Walaupun demikian,  manusia  sering  melakukan  kezaliman  kepada  dirinya  sendiri  maupun kepada Allah dengan prasangka-prasangka buruk kepada-Nya. Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya yang luas ampunan dan kasih sayang-Nya.

Astaghfirullahal'adzim. Laa ilaaha illa  Anta, subhanaka innii  kuntu minazh- zhalimin.

Masya Allah. Manusia seringkali tergesa-gesa dan penuh keluh-kesah karena dangkalnya ilmu  dan pendeknya jangkauan akalnya terhadap rahmat Allah. Ketika membutuhkan gerimis untuk  mendinginkan bumi hatinya, ia mengeluh dan kadang bahkan cepat memberikan penilaian yang salah ketika Allah mengirimkan mendung. Padahal, mendung yang tebal itu membawa muatan air yang  melimpah, lebih dari sekedar yang ia butuhkan. Ketika ia tidak melihat mendung, dan hanya merasakan teriknya  matahari,  ia  lupa  bahwa  matahari  pun  adalah  rahmat.  Berkait  dengan keinginannya,   matahari  mempercepat  penguapan  air  laut  menjadi  awan  yang selanjutnya akan menjadi hujan.  Tetapi manusia sangat pendek jangkauan akalnya, tergesa-gesa dan mudah mengeluh.

Semoga Allah mengampuni kezaliman kita dan menggantikan dengan hati yang bersyukur.

Masalah-masalah berkenaan dengan prasangka yang kurang baik terhadap Allah, tidak  hanya  ketika  berhadapan dengan  apa  yang  oleh  anggapan  lahiriah  sebagai kesulitan. Keadaan-keadaan yang  dirasa mudah, juga perlu dijaga agar kemudahan yang diberikan oleh Allah tidak menjatuhkan kita ke dalam keadaan "mengabaikan" rahmat Allah. Seolah-olah, kitalah yang menyebabkan kemudahan. Manusia memang rawan terhadap sikap takabur, menyombongkan diri di hadapan orang lain dan di hadapan dirinya sendiri.

Mudah-mudahan kita bisa menjaga persoalan-persoalan qalbiyyah selama proses menuju pernikahan berlangsung. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menyelamatkan

kita dari urusan hati yang menjerumuskan. Semoga Allah mensucikan niat kita dalam melangkah ke jenjang pernikahan. Saya sangat mengharap kepada Allah niat terbaik saat melangsungkan akad-nikah. Mudah-mudahan Allah menjadikan pernikahan kita barakah  dan  diridhai  Allah  hingga  kelak  kita  menghadap-Nya  di  yaumil-akhir. Mudah-mudahan Allah Swt. mengaruniai kita keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat  laa ilaaha illaLlah.

Inilah yang kita perlu jaga. Kita perlu menata hati ketika menjalani urusan- urusan  selama  proses  berlangsung,  termasuk  ketika  nanti  mengadakan  walimah. Mudah-mudahan kebersahajaannya  maupun kemeriahannya, kita laksanakan di atas niat serta jalan yang diridhai Allah. Semoga barakah dunia akhirat. Allahumma amin.

Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan.




Persangkaan dan Persepsi Terhadap Calon

Proses pernikahan ada yang berlangsung cepat, ada yang membutuhkan waktu lama. Mengenai  waktu yang dibutuhkan selama proses, saya teringat kepada doa keluar rumah yang artinya, "Dengan menyebut nama Allah atas jiwaku, hartaku, dan agamaku. Ya Allah, jadikanlah aku ridha dengan apa  yang Engkau tetapkan dan jadikanlah barakah apa yang telah Engkau takdirkan. Sehingga, tidak kepingin aku untuk  menyegerakan  apa yang Engkau tunda, dan menunda apa yang Engkau segerakan."

Ada satu  catatan.  Pernikahan  termasuk  salah  satu  dari  tiga  perkara  yang dianjurkan untuk  disegerakan. Jika tidak ada hal yang merintangi, mempercepatnya adalah lebih baik. Mempercepat proses pernikahan termasuk salah satu kebaikan dan lebih dekat dengan kemaslahatan, barakah, dan ridha Allah. Insya-Allah, pertolongan Allah sangat dekat. Apa-apa yang menghalangi langkah untuk menyegerakan,  akan dimudahkan dan dilapangkan. Sesungguhnya Allah tidak zalim terhadap apa-apa yang  diserukan-Nya.  Allah  tidak  zalim  terhadap  hamba-Nya,  betapa  pun  Allah Mutlak Kekuasaan-Nya. Kitalah yang sering zalim kepada Allah.

Laa ilaaha illa Anta, subhanaka innii kuntu minazh-zhalimin. Rabbana zhalamna anfusana waillam taghfirlana lanaa kuunanna minal khosirin.

Ya Allah, ampunilah hamba atas kezaliman hamba sendiri.

Mempercepat proses  pernikahan  adalah  lebih  baik,  tetapi  hendaknya  tidak terjatuh  pada  sikap  tergesa-gesa.  Selama  proses  berlangsung,  kita  membutuhkan informasi dan pembicaraan  berkaitan dengan rencana pernikahan. Adakalanya, kita mendapatkan informasi mengenai beberapa hal  dari keluarga calon, perantara, atau orang lain. Adakalanya, kita mendapatkan keterangan tentang beberapa hal dari calon pendamping secara langsung.

Selama masa ini kita sangat peka terhadap berbagai informasi yang kita terima, disebabkan                       oleh   besarnya   harapan     untuk   menyegerakan   ataupun   besarnya

kekhawatiran. Bisa juga oleh sebab-sebab lain yang bersifat qalbiyyah (hati). Kadang- kadang, orang mengalami deprivasi (kebutuhan yang sangat, seperti orang yang lapar) yang menyebabkannya menjadi  lebih peka terhadap jenis-jenis informasi tertentu. Pada saat Anda sedang mengalami deprivasi  makanan, Anda akan cepat mengira orang yang sedang memukul-mukulkan besi kecil sebagai penjual nasi goreng sedang lewat.

Masa menjelang nikah adalah masa yang sensitif. Apa yang berlangsung selama masa ini,  bagaimana memaknainya, mempengaruhi bagaimana kedua manusia itu kelak akan menghayati  pernikahannya. Proses antara pinangan dengan pelaksanaan akad,  hingga  detik-detik akadnya, bisa  menjernihkan niat-niat  yang  masih  keruh sehingga  pada  saat  keduanya  melakukan  shalat  berjama'ah  segera  setelah  akad, mereka  banyak  beristighfar,  memohon  pertolongan  Allah  untuk  melimpahkan kebarakahan dan menjauhkan dari keburukan, serta merasakan syukur yang dalam karena telah terhindar dari ancaman maksiat. Tetapi, proses menuju pernikahan bisa juga mengeruhkan niat-niat, sekalipun sekilas tampak mendapat pembenaran agama. Padahal  manusia  mendapatkan  hasil  dari  perbuatannya  sesuai  dengan  apa  yang diniatkan.

Pada masa ini, di antara sekian banyak hal yang mungkin harus diselesaikan, masalah   lisan   adalah   yang   paling   peka   dan   paling   rawan.   Sebab,   masalah memperlakukan lisan ini  mempengaruhi keseluruhan masalah lain, termasuk dalam hubungan  suami-istri  setelah  menikah.  Bahkan  termasuk  bagaimana  menghayati hubungan intim suami-istri. Wallahu A'lam bishawab wastaghfirullahal 'adzim. Saya mohon perlindungan Allah dari kekejian lisan saya sendiri.

Ada dua  hal  yang  perlu  dijaga  dalam  memperlakukan  lisan  selama  proses berlangsung (juga  sesudahnya). Pertama, menjaga lidah dalam mengucapkan kata- kata (hifdhul-lisan). Kedua, menjaga persepsi kita terhadap apa yang kita dengar dari lisan orang lain.

Ada dua bagian manusia yang dapat menjaminkan surga atau menjerumuskan ke neraka, yaitu lisan  dan kemaluan. Nikah adalah proses menjaga kesucian kemaluan kita dari tindakan yang tidak diridhai  Allah (mudah-mudahan kita termasuk orang yang menikah demi menjaga kesucian farji). Melalui  nikah, apa yang sebelumnya merupakan  dosa besar, menjadi ibadah yang dimuliakan. Nikah adalah  kesucian. Tetapi, lisan dapat menjadikannya keruh.

Dari Sahl bin Sa'd As-Sa'di r.a., bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

"Barangsiapa yang menjamin kepadaku akan menjaga apa yang ada di antara kedua   rahangnya   (mulut)  dan  apa  yang  ada  di  antara  kedua  kaki  pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin surga untuknya." (HR Bukhari).

Suatu ketika Uqbah bin Amir r.a. bertanya, "Ya Rasulullah, apakah keselamatan

itu?"


Beliau menjawab, "Tahanlah lisanmu, kerasanlah di rumahmu, dan tangisilah

dosamu." (HR Tirmidzi).

Saya tidak bisa menjelaskan bab ini lebih lanjut. Cukuplah saya akhiri bab ini dengan  beberapa   hadis.  Mudah-mudahan  Allah  Swt.   mengampuni  kesalahan- kesalahan     niat          dalam menikah                     disebabkan     oleh           ketidaktahuan         kita,                    dan meluruskannya  dengan  menyemayamkan  niat  terbaik  yang  diridhai-Nya. Mudah- mudahan kelak kita  akan mendapati pernikahan kita dan keturunan kita seluruhnya barakah dan diridhai Allah 'Azza wa Jalla. Allahumma amin.

Al-Maqdisi mengetengahkan sebuah hadis, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Berikan   penafsiran  terbaik  tentang  apa  yang  engkau  dengar,  dan  apa  yang diucapkan  saudaramu, sampai  engkau  menghabiskan semua  kemungkinan dalam arah itu."

Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai hadis, "Jika engkau mendengar sesuatu  yang mungkin diucapkan oleh saudaramu, berikan interpretasi yang terbaik sampai engkau tidak dapat menemukan alasan untuk melakukannya."

Menanggapi pertanyaan  tersebut,  Imam  berkata,  "Carilah  alasan  untuknya dengan mengatakan mungkin dia berkata begini, atau mungkin maksudnya begini."

Tabayyun (meminta penjelasan) adalah bentuk lain upaya untuk mendapatkan interpretasi sesuai dengan yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya. Bisa jadi kita mendengar langsung dengan orang yang berbicara, tetapi kita menangkapnya tidak sebagaimana dimaksud. Di sinilah tabayyun  (mengecek kebenaran informasi) diperlukan.

Rasulullah Saw. juga diriwayatkan pernah bersabda,

"Janganlah salah satu di antara kamu sekalian ber-imma'ah, yang jika orang lain baik maka engkau baik, dan jika mereka jelek maka engkau ikut jelek pula. Akan tetapi hendaklah engkau tetap  konsisten terhadap (keputusan) dirimu. Jika orang- orang  baik,  maka  engkau  juga  baik,  dan  jika  mereka  jelek,  hendaklah  engkau menjauhinya keburukan-keburukan mereka." (HR Tirmidzi).

Apakah imma'ah itu?  Kita  minta Muhammad Hashim Kamali, seorang guru besar ilmu fiqih pada International Islamic University, Malaysia, untuk menjelaskan. Menurut Muhammad Hashim Kamali, imma'ah adalah, "Memuji atau mencela orang lain tanpa alasan, tetapi semata-mata karena dia melihat orang lain melakukan hal itu."

Kita imma'ah ketika kita dengan cepat menyimpulkan ucapan orang lain hanya dari mendengar  selintas. Kita juga imma'ah kalau kita segera memberikan pujian karena           mendengar     kabar               sekedarnya     mengenai                   dia.              Apalagi             kalau   sampai menjatuhkan kesimpulan dengan sangat yakin tentang seseorang hanya dari rumor -- entah, apakah masih termasuk imma'ah atau bukan.

Alhasil, dengan kriteria seperti itu, rasanya hampir setiap hari kita terperosok ke dalam imma'ah. Kadang-kadang tersadar sesudah lewat, tetapi melakukan kesalahan lagi beberapa menit sesudah sadar.

Saya mohon ampunan kepada Allah atas berbagai perbuatan imma'ah yang saya lakukan karena  ketidaktahuan saya atau karena kecerobohan saya. Saya meminta maaf kepada Anda jika saya pernah  gegabah menyimpulkan ucapan Anda, padahal saya belum memeriksanya.

Apapun, kita mengharap pertolongan Allah semoga kemudahan dalam proses menumbuhkan kehangatan dan keakraban setelah menikah. Adapun kesulitan dalam proses,    melahirkan    kesetiaan,               kedalaman   cinta,           dan               kelurusan       niat             setelah melaksanakan akad nikah. Bagi mereka ketenteraman, mawaddah wa rahmah hingga hari kiamat kelak. Allahumma amin.

Rahmat Allah datang dalam berbagai bentuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar