Halaman

Senin, 27 Agustus 2012

Masa-masa Pengantin Baru



Masa pengantin baru barangkali sama pentingnya dengan malam pertama. Masa ini istri  Anda sangat sensitif. Perasaannya sangat peka. Apalagi kalau ia masih gadis. Begitu  juga  suami, sekalipun perasaan laki-laki
konon tak sehalus perasaan wanita, ia akan peka. Karena keduanya sangat sensitif,
maka ibarat  negatif film yang belum dicuci,  ia  mudah terbakar. Kalau terbakar, hanguslah potret yang telah dibidik dengan sangat hati-hati itu.

Masa ini  memang  sangat  peka.  Kehancuran  ikatan  suci  pernikahan, kadang bermula dari masa-masa pengantin baru yang tak terlewati dengan baik. Apalagi jika salah satu atau keduanya telah  membawa perasaan yang negatif ketika memasuki pernikahan, goresan luka yang perih akan mudah terjadi. Di sinilah kita melihat lebih dalam  lagi  hikmah  di  balik  pesan  Nabi  Saw.  agar   memurahkan  mahar  dan memudahkan nikah. Di sinilah kita melihat bahwa hikmah di balik pesan-pesan Nabi tak cukup jika hanya ditulis dalam satu bab panjang seperti pada bab "Di Manakah Wanita-wanita Barakah Itu?". Di sinilah kita melihat bahwa masa-masa ketika proses sedang berlangsung terasa sangat penting.

Tetapi karena akad nikah telah berlangsung dan malam zafaf telah lewat, maka marilah  kita  teruskan  pembicaraan  kita  tentang  masa-masa  pengantin  baru.  Soal indahnya masa yang penuh cerita ini, tak perlu saya tulis. Anda sudah tahu sendiri. Lagi pula indahnya masa pengantin baru itu lebih enak  dialami daripada dipelajari. Karena itu lebih baik kita memahami masalah-masalah yang lebih penting berkenaan dengan masa pengantin baru ini.

Pertama, jangan lupa menemani istri Anda. Sediakan waktu khusus untuknya. Lebih-lebih jika  ini merupakan pernikahan kedua dalam rangka matsna (poligami), maka  Anda  perlu  sekali  memperhatikan.  Jangan  abaikan  haknya  untuk  tinggal bersama Anda dan menghabiskan masa-masa  yang khusus untuk Anda berdua itu. Tentang berapa lama Anda harus tinggal bersama istri Anda ini, mari kita simak Anas (bin Malik) r.a. riwayat Abu Qilabah yang berkata:



Khath Arab



Termasuk sunnah bagi (seseorang) jika menikahi (lagi) seorang gadis, setelah dia mempunyai  istri, dia bermukim padanya selama tujuh hari, lalu mengadakan pembagian. Apabila menikahi  seorang  janda, dia berhak untuk bermukim padanya selama tiga hari (tiga malam), kemudian barulah mengadakan pembagian (waktu).

(Selanjutnya) Abu Qilabah berkata, "Jika aku mau, pasti aku mengatakan bahwa Anas  r.a.   memarfu'kan  berita  (atsar)  tersebut  kepada  Rasulullah  Saw."  (HR Bukhari).

Selama masa pengantin baru ini, sebaiknya suami lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani istri, sehingga istri memiliki kesempatan untuk mulai belajar bertaba'ul (mengurus dan  melayani) kepada suami dengan baik dan sesuai dengan suami.  Sebaliknya,  suami  bisa  belajar   mengenal  istri.  Yang  dimaksud  dengan mengenal istri boleh jadi berkait-erat dengan  persoalan-persoalan psikis, termasuk yang bersangkutan dengan bagaimana ia dibesarkan keluarganya,  sehingga suami dapat memahami perbedaan sikap istri dan menerima apa yang bisa diterima. Tetapi mengenal  istri  boleh  jadi  bersangkutan  dengan  hal-hal  yang  kelihatan  kecil  dan sepele, misalnya makanan kesukaan istri.

Berkenaan dengan masalah yang disebut terakhir ini, boleh jadi sebagian orang menganggap  sepele (ah, rumah tangga kok cuma ngurusi soal makanan). Tetapi menyepelekan  masalah  yang  sepele  ini,  bisa  memicu  ketidakpuasan  suami-istri. Mereka merasa diabaikan. Jika ini terus berlanjut, percekcokan bisa timbul.

Pentingnya memperhatikan persoalan  yang  dianggap  sepele  itu  tidak  berarti melupakan soal-soal yang lebih penting. Sebab di atas itu semua, masalah yang paling berpengaruh memang orientasi.  Pernikahan Hari Moekti adalah contoh yang tepat untuk   menggambarkan            bahwa orientasi             masing-masing     sangat   mempengaruhi kebahagiaan pernikahan. Ketika Kang Hari  masih menjadi rocker, pernikahannya sering  diwarnai  ketidakpuasan  dan  ketegangan-ketegangan.   Akan   tetapi  setelah menemukan Islam, mereka mendapati keluarganya penuh kebahagiaan.1

Salah satu masalah penting yang perlu dicatat dari perjalanan keluarga Hari Moekti    adalah               soal        perubahan             orientasi  keluarga   yang   ikut   mempengaruhi kebahagiaan  pernikahan  mereka.  Ketika  Kang  Hari  telah  menemukan  Islam,  ia menemukan cara pandang yang  sama sekali baru tentang istri, tentang bagaimana

bersikap dan  memuliakan  istri,  tentang  bagaimana  memandang  kehidupan,  serta tentang tujuan hidup yang semuanya berpulang kepada Allah.2

Wallahu A'lam bishawab. Semoga kita berkesempatan untuk menemukan Islam sebelum kita meninggal.

Singkat cerita, masa pengantin baru sangat peka. Dan seperti yang dinasehatkan oleh  Ummul  Mukminin 'Aisyah                           radhiyallahu 'anha, tergantung pribadi masing- masing untuk memperoleh kemuliaannya.



---

... Di sinilah kita melihat lebih dalam lagi hikmah di balik pesan Nabi Saw.
agar memurahkan mahar dan memudahkan nikah.

Di sinilah kita melihat

hikmah di balik pesan-pesan Nabi ....

---



Lalu apa yang bisa kita lakukan pada masa-masa pengantin baru? Wallahu A'lam bishawab.  Selebihnya, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda. Mudah-mudahan ada manfaatnya.




Belajar Mendampingi Suami

Anda barangkali geli dengan sub judul ini. Tetapi kita menghadapi kenyataan bahwa para wanita usia nikah di zaman kita umumnya tidak memperoleh pendidikan memadai tentang bagaimana mendampingi suami. Sama halnya dengan suami mereka yang pada umumnya tidak sempat mendapat pendidikan tentang bagaimana menjadi suami sebagaimana yang diterima oleh orangtua mereka dulu.  Sebabnya sederhana, sebagian  besar  dari  generasi  usia  nikah  maupun  keluarga  baru  di  zaman  kita umumnya menghabiskan masa kecil hingga masa dewasa di sekolah-sekolah formal saja. Mereka tidak  memperoleh pengalaman dan pendidikan mengenai peran-peran sosial maupun peran keluarga dari lingkungan, katakanlah dari masjid dan pesantren. Bahkan, mereka juga tidak mendapatkan pengalaman  itu dari keluarga --komunitas terdekat yang sebenarnya paling memungkinkan untuk memberi pengalaman kepada anak.

Jika pada generasi orangtua, suami-istri memasuki pernikahan dengan membawa bekal ilmu berumah-tangga yang mereka peroleh dari pesantren atau mushalla, maka pada generasi kita tidak seperti itu. Kita memasuki pernikahan dengan tangan kosong;

sebagian nyaris tanpa bekal, kecuali ijazah diploma atau kursus MS Excel. Jika tidak, kita membawa  bekal sertifikat seminar menjelang pernikahan --yang tidak cukup untuk memberi gambaran kepada kita tentang bagaimana berumah tangga, khususnya mendampingi suami. Adapun bagaimana bersikap kepada suami ketika sedang marah, bagaimana              meredam    emosi         suami,       bagaimana                       memberi      sentuhan               yang membangkitkan gairah istri ketika suami mempunyai keinginan besar sementara istri sedang dingin-dinginnya, dan soal-soal semacamnya, kita nyaris tidak tahu. Saya sendiri  baru tahu bahwa di pesantren ada literatur (sekaligus pengajiannya) tentang urusan yang saya sebut terakhir itu ketika saya sudah menikah. Sampai sekarang saya belum mengetahui isi kitabnya secara persis. Saya hanya mendengar penjelasan dari seorang gus (putra kiai) tentang isi kitab yang membahas soal itu ketika menyarankan kepada saya untuk mempelajari, sehingga bisa melengkapi pembahasan tentang jima' pada buku Mencapai Pernikahan Barakah.

Kembali ke persoalan mendampingi suami, ada baiknya kita mendengar nasehat dari Al-Khasyat, "Mendampingi suami merupakan sebuah proses belajar. Kecocokan perasaan harus melalui beberapa tahapan, entah membutuhkan waktu lama atau relatif singkat dari 'usaha dan kesalahan'."

Persoalan yang lebih penting dalam mendampingi suami adalah keinginan yang tulus, bukan keterampilan memasak atau menjahit sebelum Anda menikah. Kata Al- Khasyat, "Sebelum ini seorang istri perlu memiliki keinginan tulus untuk memahami suaminya, dan berusaha secara terus-menerus untuk  merealisasikan kecocokan dan keharmonisan dengan suaminya sedikit demi sedikit, dibarengi                                                                                                                dengan  kesabaran, kelembutan, dan ketekunan dalam menghindari berbagai sebab permusuhan, serta menjauhi  sebab-sebab perselisihan, dan menciptakan suasana yang sesuai dengan perkembangan semangat kasih-sayang dan cinta-kasih."

"Adalah  mustahil,"  kata  Al-Khasyat  lebih  lanjut,  "bila  kelembutan  dan keharmonisan  dapat diraih tanpa kemauan dari pihak suami maupun istri untuk menghilangkan sebagian tingkah laku dan beberapa kebiasaan yang lalu."

Seperti yang telah kita dengar dari Al-Khasyat, yang kita perlukan agar bisa mendampingi  suami  adalah  keinginan  yang  tulus.  Istilah  ini  sangat  indah  dan barangkali sangat sering Anda dengar. Tetapi apakah keinginan yang tulus itu?                                                    Apa yang dapat menandakan kita tulus atau tidak?

Wallahu A'lam bishawab. Silakan Anda cari jawabnya dengan bertanya kepada diri Anda sendiri.

Sementara Anda mencari jawabnya, mari  kita  melanjutkan pembicaraan kita kepada  persepsi.  Secara  sederhana,  bagaimana  Anda  mempersepsi  sesuatu  sama halnya dengan bagaimana Anda  memandang. Jika Anda memakai kacamata merah, maka apa pun yang Anda lihat akan tampak ada warna merahnya. Daun yang hijau dan bunga yang putih pun akan tampak kemerah-merahan.

Selain itu, pengalaman dan pengetahuan Anda juga mempengaruhi. Orang Jawa
Timur akan berbinar-binar melihat rujak cingur yang hitam pekat bumbunya dan

menebar bau petis campur terasi (Ouw, sedapnya). Air liurnya akan segera mengucur sehingga  tak  sabar  lagi  untuk  segera  menikmati.  Tetapi  orang  lain,  akan  segera bergidik. Jijik. Jangankan untuk memakannya, melihat orang lain makan saja rasanya tengkuk sudah geli. Iihh, makanan kok hitam begitu. Baunya nusuk-nusuk lagi...!

Singkatnya, persepsi  dipengaruhi  oleh  zhan  (prasangka)  Anda,  sebagaimana warna  kacamata  mempengaruhi penglihatan kita  terhadap benda-benda yang  kita lihat. Selain itu, persepsi kita  dipengaruhi oleh pengalaman, ilmu, dan juga kondisi psikis kita saat itu. Jika Anda sedang marah sekali,  Anda akan mudah melakukan kesalahan dalam menafsiri perkataan orang lain, termasuk perkataan suami atau istri Anda. Ini satu contoh.

Lalu  apa  perlunya  kita  berdiskusi  soal  persepsi  dengan  pembicaraan  kita mengenai masa pengantin baru? Untuk menjawab pertanyaan ini, sekali lagi mari kita ingat bahwa masa pengantin baru adalah masa yang sangat peka. Keindahan malam zafaf dan kebahagiaan masa pengantin baru bisa berantakan karena persepsi kita tidak baik. Akibatnya, kita mudah menaruh "kecurigaan" manakala kita menjumpai hal-hal yang tidak mengenakkan. Ini dapat menjadi sebab munculnya bibit perselisihan yang bersifat latent (tersembunyi).3

Karena itu, pengantin baru perlu belajar menjaga persepsi terhadap apa yang dilakukan oleh  suami atau istrinya. Jika tidak, bersama keindahan itu akan tumbuh penyakit yang dapat meledak sewaktu-waktu ketika masa pengantin baru telah lewat.

Ada hal lain yang kita butuhkan di masa pengantin baru, yaitu penerimaan yang tulus.  Penerimaan  dari kedua pihak. Bukan suami saja  atau  istri  saja.  Sederhana bukan?  Ya,  sederhana.  Sangat   sederhana  menuliskannya.  Jauh  lebih  sederhana daripada mengamalkannya.




Merintis Kebiasaan Yang Baik

Allah menyempurnakan setengah agama kita  ketika  kita  dikaruniai kekuatan untuk menikah.  Kemudian kita disuruh menyempurnakan yang setengahnya. Salah satu yang bisa kita lakukan untuk menyempurnakan setengah dari agama kita adalah dengan merintis kebiasaan yang baik dan saling mengingatkan tentang watak (khuluq) serta perilaku yang tidak baik. Sebagian dari kita mungkin memiliki perilaku buruk yang  tidak  diketahuinya, kecuali  dengan  bantuan  orang  lain,  termasuk  suaminya sendiri.

Berkenaan dengan merintis kebiasaan yang baik ini, ada sebuah hadis yang dapat kita renungkan:



Khath Arab





"Barangsiapa yang menetapkan sunnah-hasanah (kebiasaan yang baik) lalu ia diamalkan,  maka  ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikit pun.

Dan  barangsiapa  yang  menetapkan  dalam  Islam  satu   sunnah  sayyi'ah (kebiasaan yang buruk) lalu ada yang mengamalkannya, maka ia memperoleh dosa seperti yang mengerjakannya tersebut tanpa dikurangi sedikit pun." (HR Muslim).

Kebiasaan baik  yang  kita  rintis  di  rumah  kita  bisa  jadi  menyangkut ibadah mahdhah seperti shalat, bisa jadi berkenaan dengan perilaku kita kepada keluarga atau perilaku kita terhadap tetangga atau lebih luas lagi. Yang jelas, bisa merintis sunnah hasanah  atau  tidak,  sebaiknya suami  isteri  berusaha  untuk  mengurangi perilaku- perilaku yang buruk. Syukur kalau bisa saling belajar melihat kekurangan  masing- masing dan kemudian menyadarinya, bukan menjadikannya untuk berapologi. Syukur pula kalau bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan sehingga menjadi kebaikan.

Saya tidak berpanjang-panjang dengan masalah sunnah hasanah ini. Saya grogi membahasnya.  Karena itu, marilah kita beralih kepada tema kita yang lain, yakni mengenai    mengurangi keburukan dan  memperbaiki kekurangan. Mudah-mudahan dengan pertolongan Allah, keluarga kita akan barakah dan selamat dan fitnah dunia maupun fitnah akhirat. Mudah-mudahan dengan pertolongan Allah, anak-anak  kita dapat lebih memikirkan ummat Muhammad dibanding orangtuanya atas sebab kita berusaha memperbaiki sebagian kekurangan kita.

Hambatan besar yang mungkin muncul ketika kita ingin menjadikan rumah kita sebagai tempat  untuk saling memperbaiki kekurangan, adalah seperti yang pernah dilukiskan oleh Imam Al-Ghazali  dalam kitab Ihya' 'Ulumuddin pada pembahasan tentang penyakit hati. Ia berkata, "Akan tetapi, biasanya kita justru menyibukkan diri dengan mencari-cari jawaban untuk menunjukkan kepada orang itu bahwa ia sendiri juga menyandang cacat-cacat seperti itu. Lalu kita akan berkata kepadanya: 'Anda sendiri juga melakukan begini... dan begitu....' Dan sikap permusuhan seperti itu pasti menghalangi kita daripada memanfaatkan nasehatnya."

Seperti kata Al-Ghazali, adakalanya kita berkata saat diingatkan, "Habis, Mas kemarin juga begitu."

Atau kalimat lain yang mirip dengan itu, misalnya, "Ah, Mas nyuruh bangun awal. Mas sendiri  susah dibangunkan. Bagaimana mau shalat malam kalau tidur terus?"

Contoh lain yang semakna dengan itu masih banyak. Silakan Anda cari sendiri. Atau,  silakan  Anda  ingat-ingat  apakah  dalam  hidup  Anda  pernah  mengucapkan

kalimat-kalimat yang seperti itu manakala Anda diingatkan oleh suami Anda (atau suami diingatkan oleh isterinya). Atau, Anda sering mengucapkannya? Jika ya, maka ingatlah bahwa        sesungguhnya                  suami      Anda                    bukan    Nabi      yang       Allah mema'shumkannya, sehingga ia  terjaga  dari  melakukan kesalahan. Ia  juga bukan tergolong sahabat Nabi --yang sekalipun tidak ma'shum, tetapi Allah meridhai mereka dan  mengampuni kesalahannya. Ia  adalah  manusia biasa,  sangat  biasa.  Sehingga terbuka  kemungkinan  melakukan  kesalahan,  sekalipun  ia  sangat  menginginkan kebaikan. Sederhananya, ia mungkin sering tidur tanpa bangun malam, meskipun berkali-kali ia mengatakan ingin shalat malam.

Mari kita perhatikan hadis ini:





Khath Arab



"Allah merahmati seseorang yang bangun pada malam hari lalu menunaikan shalat. Dia  bangunkan istrinya dan jika istri enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati  seorang wanita yang bangun malam hari untuk menunaikan shalat. Dia bangunkan suaminya dan  apabila suaminya enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya." (HR Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu  Majah dan yang  lainnya.  Ibnu  Hibban  dan  Al-Hakim  menshahihkan  hadis  ini.  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berpendapat, hadis ini hasan).

Atau mari kita simak hadis ini:





Khath Arab







Dari Abu Darda' r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda, "Tiga (orang), Allah mencintai mereka, tersenyum kepada mereka dan merasa gembira dengan mereka.

Pertama, orang yang apabila suatu golongan menghadapi serbuan maka ia berperang  sendirian semata-mata karena Allah 'Azza wa Jalla, maka ia terbunuh atau  ditolong oleh  Allah  'Azza  wa  Jalla  dan  dicukupi-Nya lalu  Allah  berfirman (kepada para malaikat, "Lihatlah hamba-Ku ini bagaimana dia bershabar karena-Ku dengan (mengorbankan) dirinya."

Kedua, orang yang memiliki istri cantik dan kasur empuk lagi bagus, kemudian ia  bangun  (melakukan  shalat)  malam,  maka  Allah  berfirman,  "Ia  meninggalkan syahwatnya dan mengingat-Ku. Padahal kalau suka ia tidur saja."

Ketiga,  orang   yang   apabila  dalam   perjalanan   (safar)  bersama  dengan rombongan lalu di saat itu begadang malam kemudian tidur, ia bangun waktu sahur dalam  keadaan  susah  dan  senang."  (HR  Thabrani  dengan  sanad  hasan.  Al- Haitsami berkata, "Para perawinya terpercaya."  Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hadis ini hasan).

Hadis-hadis ini tidak berbicara tentang sifat suami sebagai manusia biasa. Dan saya pun tidak  bermaksud untuk menjelaskan kepada Anda makna dari dua hadis tersebut karena saya belum berhak menjelaskan. Tetapi melalui hadis ini saya ingin berbincang-bincang    dengan           Anda                                     bahwa    suatu   saat       barangkali    Anda            yang memercikkan  air  ke  wajahnya,  dan  di  saat  lain  Anda  yang  susah  dibangunkan sehingga suami perlu memercikkan air ke wajah Anda. Suatu saat Anda yang perlu mengingatkan  suami  ketika  ia  melakukan  kesalahan  atau  mengucapkan  kalimat- kalimat  yang  merusak.  Tetapi  di  saat  lain  boleh  jadi  suamilah  yang   harus mengingatkan Anda karena Anda melakukan kesalahan atau mengucapkan kalimat yang tidak  baik;  kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh suami Anda.

Jika Anda  menerima  peringatan  dan  nasehat  suami,  sementara  suami  pun demikian, maka insya-Allah dari rumah Anda akan terbit cahaya yang menerangi dan memberi kesejukan bagi sekeliling.  Paling tidak bagi orang yang mendiami rumah Anda. Tetapi jika Anda berkata "Uuh, Mas juga sering begitu", maka kisah romantis tentang pernikahan penuh barakah selesai sampai di sini. Ia akan merasa  terhalang secara psikis untuk mengingatkan Anda dengan segera di saat ia menjumpai Anda melakukan  kesalahan. Yang paling mudah ia lakukan kemudian adalah marah dan menyalahkan.  Kalau  ini  terus  berlanjut,  berarti  Anda  berdua  telah  jatuh  dalam coercive  communication  (komunikasi  memaksa).  Selengkapnya  tentang  coercive communication ini bisa Anda simak pada bab Komunikasi Suami-Istri di jendela tiga buku ini.

---

Seperti kata Al-Ghazali,

saat diingatkan adakalanya kita berkata,

"Habis, Mas kemarin juga begitu."

---




Dan Istri Pun Hamil

Masa pengantin baru, barangkali terasa belum lewat ketika istri Anda muntah- muntah  di  pagi  hari.  Ketika  Anda  mendekat,  ia  menepis  Anda.  Di  saat  Anda membutuhkan seorang teman untuk berbincang santai, ia malah berangkat tidur dan enggan bangun. Belakangan periksa, ternyata ia telah positif mengandung.

Sebagian orang terkejut dengan masa nyidam. Apalagi kalau mereka sama-sama tidak  mengerti  bahwa  perubahan  situasi  emosi  yang  drastis  itu  disebabkan  oleh datangnya kehamilan, percekcokan bisa tersulut dengan cepat sebagaimana api yang membakar rumput kering. Akibatnya, hubungan suami  dengan istri akan renggang. Masing-masing menyimpan perasaan yang tidak mengenakkan.

Datangnya kehamilan  dan  masa  nyidam  itu  adakalanya  pada  bulan  ketiga pernikahan,                       adakalanya   dua    tahun   kemudian.   Akan    tetapi   tidak   menutup kemungkinan istri sudah mengandung setelah satu bulan menikah.

Nah, jika Anda masih menginginkan suasana pengantin baru, apa yang sebaiknya
Anda lakukan bersama istri Anda yang mulai mengandung?

Silakan Anda jawab sendiri. Mumpung masih pengantin baru.







Catatan Kaki:

1.      Ustadz  Hari  Moekti  sempat  menceritakan  pengalaman-nya  berumah  tangga pada  kesempatan  acara  bedah  buku  "Seni  Dalam  Pandangan  Islam"  karya Abdurrahman  Al-Baghdadi  di   Fakultas  Sastra  UGM.  Cerita  serupa  juga dikemukakan   ketika  menjadi            pembicara                          pada      seminar   Memaksimalkan Kecerdasan Anak yang diselenggarakan oleh Unpas, Bandung awal Juli lalu.

2.      Soal    bagaimana   perubahan  pandangan   itu    mengubah   juga    kehidupan pernikahannya, lebih baik Anda bertanya langsung kepada Ustadz Hari Moekti sehingga  memperoleh penjelasan yang  lebih  baik  dan  lebih  jernih.  Di  atas segala-galanya,           tentu        saja     hanya Allah           'Azza        wa       Jalla   sumber           segala kebahagiaan dan Dia-lah yang memberi kebahagiaan kepada siapa pun yang Dia Kehendaki. Wallahu A'lam bishawab.

3.      Bibit  perselisihan  bersifat  latent  (tersembunyi)  karena  pada  masa  ini keindahan  sebagai   pengantin  baru  menutupi  berbagai  "ketidaksesuaian kecil". Di sinilah permaafan dan  permakluman dibutuhkan agar hal yang tidak mengenakkan tidak menjadi bibit perselisihan yang sewaktu-waktu bisa meledak.  Setelah  masa  pengantin  baru  usai,  rumah  tangga  masih  penuh kesejukan. Rumah terasa lapang dan damai, meskipun secara fisik sempit. Masalahnya, persoalan  hubungan antara suami dan istri tidak sesederhana menuliskan kata permaafan dan permakluman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar