Masa pengantin baru barangkali sama pentingnya
dengan malam pertama.
Masa ini istri Anda
sangat sensitif. Perasaannya sangat
peka. Apalagi kalau ia masih gadis.
Begitu juga suami,
sekalipun perasaan
laki-laki
konon tak sehalus perasaan
wanita, ia akan peka. Karena keduanya sangat sensitif,
maka ibarat negatif film yang belum dicuci,
ia
mudah terbakar. Kalau terbakar, hanguslah potret yang telah dibidik dengan sangat hati-hati itu.
Masa ini memang
sangat
peka.
Kehancuran ikatan suci pernikahan, kadang bermula dari masa-masa pengantin baru yang tak terlewati dengan baik. Apalagi jika salah
satu atau keduanya telah
membawa perasaan
yang negatif ketika memasuki pernikahan, goresan luka yang perih akan mudah terjadi. Di sinilah kita melihat lebih dalam lagi hikmah di balik
pesan
Nabi
Saw.
agar memurahkan mahar dan
memudahkan nikah. Di sinilah kita melihat bahwa hikmah di balik pesan-pesan
Nabi tak cukup jika hanya ditulis dalam satu bab panjang seperti
pada bab "Di Manakah Wanita-wanita Barakah
Itu?". Di sinilah
kita melihat bahwa masa-masa ketika proses sedang berlangsung terasa sangat
penting.
Tetapi karena akad nikah
telah berlangsung dan malam zafaf
telah lewat, maka marilah
kita
teruskan
pembicaraan
kita
tentang masa-masa
pengantin
baru.
Soal
indahnya masa yang penuh cerita
ini, tak perlu saya tulis. Anda sudah tahu sendiri.
Lagi pula indahnya masa pengantin baru itu lebih enak dialami daripada dipelajari.
Karena itu lebih baik kita memahami masalah-masalah yang lebih penting berkenaan
dengan masa pengantin
baru ini.
Pertama, jangan lupa menemani
istri Anda. Sediakan
waktu khusus untuknya.
Lebih-lebih jika ini merupakan pernikahan kedua dalam rangka matsna (poligami),
maka Anda perlu sekali
memperhatikan.
Jangan
abaikan haknya untuk tinggal bersama Anda dan menghabiskan masa-masa
yang khusus
untuk Anda berdua
itu. Tentang berapa lama Anda harus tinggal
bersama istri Anda ini, mari kita simak Anas (bin Malik) r.a. riwayat Abu Qilabah yang berkata:
Khath Arab
Termasuk sunnah
bagi (seseorang) jika menikahi (lagi) seorang gadis, setelah dia mempunyai istri, dia bermukim padanya selama
tujuh hari, lalu mengadakan pembagian. Apabila menikahi seorang
janda, dia berhak untuk bermukim padanya selama tiga hari (tiga malam), kemudian
barulah mengadakan pembagian
(waktu).
(Selanjutnya) Abu Qilabah berkata, "Jika aku mau, pasti aku mengatakan bahwa Anas
r.a. memarfu'kan
berita
(atsar) tersebut kepada Rasulullah
Saw."
(HR Bukhari).
Selama masa pengantin baru ini, sebaiknya suami lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani istri, sehingga
istri memiliki kesempatan untuk mulai belajar
bertaba'ul (mengurus dan melayani) kepada suami dengan baik dan sesuai
dengan suami. Sebaliknya,
suami bisa
belajar mengenal istri. Yang dimaksud
dengan mengenal
istri boleh jadi berkait-erat dengan
persoalan-persoalan psikis, termasuk
yang bersangkutan dengan bagaimana ia dibesarkan keluarganya, sehingga suami dapat memahami perbedaan sikap istri dan menerima
apa yang bisa diterima. Tetapi mengenal istri boleh
jadi
bersangkutan dengan hal-hal yang
kelihatan
kecil
dan
sepele, misalnya makanan kesukaan istri.
Berkenaan dengan masalah yang disebut terakhir ini, boleh jadi sebagian
orang menganggap sepele (ah, rumah
tangga kok cuma ngurusi soal makanan). Tetapi menyepelekan masalah yang sepele
ini,
bisa
memicu
ketidakpuasan suami-istri. Mereka merasa diabaikan. Jika ini
terus berlanjut,
percekcokan bisa timbul.
Pentingnya memperhatikan persoalan
yang dianggap sepele itu tidak
berarti melupakan soal-soal
yang lebih penting.
Sebab di atas itu semua, masalah
yang paling berpengaruh memang orientasi. Pernikahan Hari Moekti adalah
contoh yang tepat untuk menggambarkan bahwa orientasi masing-masing sangat mempengaruhi kebahagiaan pernikahan. Ketika Kang Hari
masih menjadi rocker, pernikahannya sering diwarnai
ketidakpuasan dan ketegangan-ketegangan. Akan tetapi setelah menemukan Islam, mereka mendapati
keluarganya penuh kebahagiaan.1
Salah satu masalah penting
yang perlu dicatat
dari perjalanan keluarga Hari Moekti adalah soal perubahan orientasi keluarga yang ikut mempengaruhi kebahagiaan pernikahan mereka.
Ketika
Kang
Hari
telah
menemukan
Islam,
ia
menemukan cara pandang yang sama sekali baru tentang istri,
tentang bagaimana
bersikap dan memuliakan
istri,
tentang
bagaimana
memandang kehidupan, serta tentang tujuan hidup yang semuanya berpulang
kepada Allah.2
Wallahu
A'lam bishawab. Semoga kita berkesempatan untuk menemukan Islam
sebelum kita meninggal.
Singkat
cerita, masa pengantin
baru sangat peka. Dan seperti yang dinasehatkan oleh Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, tergantung pribadi
masing- masing untuk memperoleh kemuliaannya.
---
... Di sinilah kita melihat lebih dalam lagi hikmah di
balik pesan Nabi Saw.
agar memurahkan mahar dan memudahkan nikah.
Di sinilah
kita melihat
hikmah di balik pesan-pesan Nabi ....
---
Lalu apa yang bisa kita lakukan pada masa-masa pengantin baru? Wallahu A'lam
bishawab. Selebihnya, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan
kepada Anda. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
Belajar
Mendampingi Suami
Anda barangkali
geli dengan sub judul ini. Tetapi
kita menghadapi kenyataan
bahwa para wanita usia nikah di zaman kita umumnya tidak memperoleh pendidikan memadai tentang bagaimana mendampingi suami. Sama halnya dengan suami mereka
yang pada umumnya tidak sempat mendapat pendidikan tentang bagaimana menjadi suami sebagaimana yang diterima oleh orangtua mereka dulu.
Sebabnya sederhana, sebagian besar dari generasi usia nikah maupun keluarga baru
di
zaman
kita
umumnya menghabiskan masa kecil hingga
masa dewasa di sekolah-sekolah formal saja. Mereka tidak
memperoleh pengalaman dan pendidikan mengenai peran-peran sosial maupun peran keluarga
dari lingkungan, katakanlah
dari masjid dan pesantren. Bahkan,
mereka juga tidak mendapatkan pengalaman
itu dari keluarga --komunitas
terdekat yang sebenarnya paling memungkinkan untuk memberi pengalaman kepada anak.
Jika pada generasi orangtua, suami-istri memasuki pernikahan dengan membawa bekal ilmu berumah-tangga yang mereka peroleh dari pesantren atau mushalla,
maka pada generasi
kita tidak seperti itu. Kita
memasuki pernikahan dengan tangan
kosong;
sebagian nyaris tanpa bekal, kecuali ijazah diploma atau kursus MS Excel. Jika tidak, kita membawa bekal
sertifikat seminar menjelang pernikahan --yang tidak cukup
untuk memberi gambaran kepada kita tentang
bagaimana berumah tangga, khususnya mendampingi suami. Adapun bagaimana bersikap kepada suami ketika sedang marah,
bagaimana meredam emosi suami, bagaimana memberi sentuhan yang membangkitkan gairah istri ketika suami mempunyai keinginan
besar sementara istri sedang dingin-dinginnya, dan soal-soal semacamnya, kita nyaris tidak tahu. Saya sendiri
baru tahu bahwa di pesantren ada literatur (sekaligus pengajiannya) tentang urusan yang saya sebut terakhir
itu ketika saya sudah menikah. Sampai sekarang saya belum mengetahui isi kitabnya secara persis. Saya hanya mendengar
penjelasan dari seorang gus (putra kiai) tentang isi kitab yang membahas
soal itu ketika menyarankan kepada saya untuk mempelajari, sehingga bisa melengkapi pembahasan tentang jima' pada buku Mencapai Pernikahan Barakah.
Kembali ke persoalan mendampingi suami, ada baiknya kita mendengar nasehat dari Al-Khasyat,
"Mendampingi suami merupakan sebuah proses belajar. Kecocokan
perasaan harus melalui beberapa tahapan,
entah membutuhkan waktu lama atau relatif
singkat dari 'usaha dan kesalahan'."
Persoalan yang lebih penting dalam mendampingi suami adalah keinginan yang
tulus, bukan keterampilan memasak atau menjahit sebelum Anda menikah. Kata Al- Khasyat,
"Sebelum ini seorang istri perlu memiliki keinginan tulus untuk memahami suaminya, dan berusaha secara terus-menerus untuk
merealisasikan kecocokan dan keharmonisan dengan suaminya
sedikit demi sedikit,
dibarengi dengan
kesabaran, kelembutan, dan ketekunan dalam menghindari berbagai
sebab permusuhan, serta menjauhi
sebab-sebab perselisihan, dan menciptakan suasana yang sesuai
dengan perkembangan semangat
kasih-sayang dan cinta-kasih."
"Adalah mustahil," kata
Al-Khasyat lebih lanjut, "bila kelembutan
dan keharmonisan dapat diraih
tanpa kemauan dari pihak suami maupun istri untuk menghilangkan sebagian tingkah
laku dan beberapa kebiasaan yang lalu."
Seperti
yang telah kita dengar dari Al-Khasyat, yang kita perlukan
agar bisa mendampingi suami adalah keinginan yang
tulus.
Istilah ini sangat
indah
dan barangkali sangat sering Anda dengar. Tetapi apakah keinginan yang tulus itu? Apa
yang dapat menandakan kita tulus atau tidak?
Wallahu
A'lam bishawab. Silakan Anda cari jawabnya
dengan bertanya kepada diri
Anda sendiri.
Sementara Anda mencari jawabnya, mari kita
melanjutkan pembicaraan
kita kepada persepsi. Secara sederhana,
bagaimana Anda mempersepsi
sesuatu
sama
halnya dengan bagaimana Anda memandang. Jika Anda memakai kacamata
merah, maka apa pun yang Anda lihat akan tampak ada warna merahnya. Daun yang hijau dan bunga yang putih pun akan tampak kemerah-merahan.
Selain itu, pengalaman dan pengetahuan Anda juga mempengaruhi. Orang Jawa
Timur akan berbinar-binar melihat rujak cingur
yang hitam pekat bumbunya dan
menebar bau petis campur terasi (Ouw, sedapnya). Air liurnya akan segera mengucur sehingga tak sabar lagi untuk segera menikmati. Tetapi orang lain, akan segera bergidik. Jijik. Jangankan
untuk memakannya, melihat orang lain makan saja rasanya tengkuk sudah geli. Iihh, makanan kok hitam begitu.
Baunya nusuk-nusuk lagi...!
Singkatnya, persepsi
dipengaruhi
oleh
zhan
(prasangka) Anda, sebagaimana warna
kacamata
mempengaruhi penglihatan kita terhadap benda-benda yang kita
lihat. Selain itu, persepsi kita
dipengaruhi oleh pengalaman, ilmu, dan juga kondisi psikis kita saat itu. Jika Anda sedang marah sekali,
Anda akan mudah
melakukan kesalahan dalam menafsiri perkataan orang lain, termasuk
perkataan suami atau istri
Anda. Ini satu contoh.
Lalu
apa perlunya
kita berdiskusi
soal
persepsi dengan
pembicaraan kita mengenai masa pengantin baru? Untuk menjawab pertanyaan
ini, sekali lagi mari kita ingat
bahwa masa pengantin baru adalah masa yang sangat peka. Keindahan malam
zafaf dan kebahagiaan masa pengantin baru bisa berantakan karena persepsi kita tidak baik. Akibatnya, kita mudah menaruh "kecurigaan" manakala
kita menjumpai hal-hal
yang tidak mengenakkan. Ini dapat menjadi sebab munculnya
bibit perselisihan
yang bersifat latent (tersembunyi).3
Karena itu, pengantin baru perlu belajar
menjaga persepsi terhadap apa yang dilakukan oleh suami atau istrinya.
Jika tidak, bersama keindahan
itu akan tumbuh penyakit yang dapat meledak sewaktu-waktu ketika masa pengantin baru telah
lewat.
Ada hal lain yang kita butuhkan di masa pengantin
baru, yaitu penerimaan yang tulus. Penerimaan dari kedua pihak.
Bukan suami saja atau istri
saja. Sederhana bukan? Ya, sederhana. Sangat sederhana menuliskannya. Jauh lebih sederhana daripada mengamalkannya.
Merintis Kebiasaan Yang Baik
Allah menyempurnakan setengah agama kita
ketika
kita dikaruniai
kekuatan untuk menikah. Kemudian kita disuruh menyempurnakan yang setengahnya. Salah satu yang bisa kita lakukan untuk menyempurnakan setengah dari agama kita adalah dengan
merintis kebiasaan yang baik dan
saling mengingatkan tentang watak
(khuluq) serta perilaku
yang tidak baik. Sebagian dari kita mungkin memiliki perilaku buruk yang tidak diketahuinya, kecuali dengan
bantuan orang lain, termasuk suaminya sendiri.
Berkenaan dengan
merintis kebiasaan yang
baik ini, ada sebuah hadis yang
dapat kita renungkan:
Khath Arab
"Barangsiapa yang menetapkan sunnah-hasanah (kebiasaan yang baik) lalu ia diamalkan, maka ia mendapat pahala seperti orang
yang mengerjakannya tanpa
dikurangi sedikit pun.
Dan barangsiapa
yang
menetapkan
dalam
Islam
satu
sunnah sayyi'ah (kebiasaan yang buruk) lalu ada yang mengamalkannya, maka ia memperoleh dosa seperti yang mengerjakannya tersebut tanpa dikurangi sedikit pun." (HR Muslim).
Kebiasaan baik
yang
kita
rintis
di
rumah kita bisa jadi menyangkut ibadah mahdhah seperti shalat, bisa jadi berkenaan
dengan perilaku kita
kepada keluarga atau perilaku kita terhadap tetangga atau lebih luas lagi. Yang jelas, bisa merintis sunnah
hasanah atau tidak, sebaiknya
suami isteri berusaha
untuk mengurangi
perilaku- perilaku yang buruk.
Syukur kalau bisa saling belajar melihat
kekurangan masing- masing dan kemudian
menyadarinya, bukan menjadikannya untuk berapologi. Syukur pula kalau
bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan sehingga menjadi
kebaikan.
Saya tidak berpanjang-panjang dengan masalah sunnah
hasanah ini. Saya grogi membahasnya.
Karena itu, marilah kita beralih kepada tema kita yang lain, yakni mengenai mengurangi keburukan dan memperbaiki kekurangan. Mudah-mudahan
dengan pertolongan Allah, keluarga kita akan barakah dan selamat dan fitnah dunia maupun fitnah akhirat.
Mudah-mudahan dengan pertolongan Allah,
anak-anak kita dapat lebih memikirkan ummat Muhammad dibanding
orangtuanya atas sebab kita
berusaha memperbaiki sebagian kekurangan kita.
Hambatan besar yang mungkin
muncul ketika kita ingin menjadikan rumah kita sebagai tempat untuk
saling memperbaiki kekurangan, adalah seperti
yang pernah dilukiskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' 'Ulumuddin pada pembahasan tentang penyakit hati. Ia berkata, "Akan tetapi, biasanya kita justru menyibukkan diri dengan mencari-cari jawaban untuk menunjukkan kepada orang itu bahwa ia sendiri
juga menyandang cacat-cacat seperti itu. Lalu kita akan berkata kepadanya:
'Anda sendiri juga melakukan begini...
dan begitu....' Dan
sikap permusuhan seperti itu pasti menghalangi kita
daripada memanfaatkan nasehatnya."
Seperti kata Al-Ghazali, adakalanya kita berkata saat diingatkan, "Habis, Mas kemarin
juga begitu."
Atau kalimat lain yang mirip dengan itu, misalnya, "Ah, Mas nyuruh bangun awal. Mas sendiri
susah dibangunkan. Bagaimana
mau shalat malam kalau tidur terus?"
Contoh lain yang semakna dengan itu masih banyak.
Silakan Anda cari sendiri.
Atau, silakan Anda ingat-ingat
apakah
dalam hidup Anda pernah
mengucapkan
kalimat-kalimat yang seperti itu manakala Anda diingatkan oleh suami Anda (atau suami diingatkan oleh isterinya). Atau, Anda sering mengucapkannya? Jika ya, maka ingatlah bahwa sesungguhnya suami Anda bukan Nabi yang Allah mema'shumkannya, sehingga ia terjaga
dari melakukan kesalahan. Ia
juga bukan tergolong sahabat Nabi --yang sekalipun tidak ma'shum, tetapi Allah meridhai
mereka dan mengampuni kesalahannya. Ia adalah
manusia biasa,
sangat biasa.
Sehingga terbuka kemungkinan melakukan kesalahan,
sekalipun
ia
sangat
menginginkan kebaikan. Sederhananya, ia mungkin sering tidur tanpa
bangun malam, meskipun
berkali-kali ia mengatakan ingin shalat malam.
Mari kita perhatikan hadis ini:
Khath Arab
"Allah merahmati seseorang yang bangun pada malam hari lalu menunaikan shalat. Dia bangunkan istrinya
dan jika istri
enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita
yang bangun malam hari untuk menunaikan shalat.
Dia bangunkan suaminya dan apabila suaminya
enggan, maka dia percikkan air ke wajahnya." (HR Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah
dan yang lainnya.
Ibnu
Hibban
dan
Al-Hakim
menshahihkan hadis
ini.
Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-Albani berpendapat, hadis ini hasan).
Atau mari kita simak hadis ini:
Khath Arab
Dari Abu Darda' r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda, "Tiga (orang), Allah mencintai mereka, tersenyum kepada
mereka dan merasa gembira dengan mereka.
Pertama, orang yang apabila suatu golongan menghadapi serbuan
maka ia berperang sendirian semata-mata karena Allah 'Azza wa Jalla, maka ia terbunuh atau ditolong oleh Allah 'Azza wa Jalla dan dicukupi-Nya lalu Allah berfirman (kepada para malaikat, "Lihatlah hamba-Ku ini bagaimana
dia bershabar karena-Ku
dengan (mengorbankan) dirinya."
Kedua, orang yang memiliki istri cantik dan kasur empuk lagi bagus, kemudian ia bangun (melakukan shalat)
malam,
maka
Allah
berfirman,
"Ia
meninggalkan syahwatnya dan mengingat-Ku. Padahal kalau suka ia tidur saja."
Ketiga,
orang
yang
apabila dalam perjalanan (safar) bersama dengan rombongan
lalu di saat itu begadang
malam kemudian tidur, ia bangun waktu sahur dalam keadaan susah
dan
senang." (HR Thabrani
dengan
sanad
hasan.
Al- Haitsami
berkata, "Para perawinya terpercaya." Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hadis
ini hasan).
Hadis-hadis ini tidak berbicara tentang
sifat suami sebagai
manusia biasa. Dan saya
pun tidak bermaksud untuk menjelaskan kepada Anda makna dari dua hadis
tersebut karena saya belum berhak
menjelaskan. Tetapi melalui
hadis ini saya ingin berbincang-bincang dengan Anda bahwa suatu saat barangkali Anda yang memercikkan
air
ke
wajahnya,
dan
di
saat
lain
Anda
yang
susah dibangunkan sehingga suami perlu memercikkan air ke wajah Anda. Suatu
saat Anda yang perlu
mengingatkan suami ketika ia melakukan
kesalahan atau
mengucapkan
kalimat- kalimat
yang
merusak.
Tetapi di saat lain
boleh
jadi suamilah yang harus mengingatkan Anda karena Anda melakukan kesalahan atau mengucapkan kalimat
yang tidak baik;
kesalahan yang sama seperti yang pernah
dilakukan oleh suami Anda.
Jika Anda menerima peringatan dan nasehat suami, sementara suami
pun demikian, maka insya-Allah dari rumah Anda akan terbit cahaya yang menerangi
dan memberi kesejukan bagi sekeliling.
Paling tidak bagi orang
yang mendiami rumah
Anda. Tetapi jika Anda berkata "Uuh, Mas juga sering begitu", maka kisah romantis tentang pernikahan penuh barakah
selesai sampai di sini. Ia akan merasa terhalang secara psikis untuk
mengingatkan Anda dengan segera di saat ia menjumpai Anda melakukan
kesalahan. Yang paling
mudah ia lakukan kemudian
adalah marah dan menyalahkan.
Kalau ini
terus
berlanjut,
berarti Anda
berdua
telah
jatuh
dalam
coercive communication
(komunikasi
memaksa).
Selengkapnya
tentang coercive communication ini bisa Anda simak pada bab Komunikasi Suami-Istri di jendela tiga buku ini.
---
Seperti kata Al-Ghazali,
saat diingatkan adakalanya kita berkata,
"Habis, Mas kemarin
juga begitu."
---
Dan Istri Pun Hamil
Masa pengantin baru, barangkali terasa belum lewat ketika istri Anda muntah- muntah
di
pagi
hari.
Ketika
Anda
mendekat, ia menepis
Anda.
Di
saat
Anda
membutuhkan seorang teman untuk
berbincang santai,
ia malah berangkat tidur dan enggan bangun. Belakangan periksa, ternyata ia telah positif mengandung.
Sebagian orang terkejut
dengan masa nyidam.
Apalagi kalau mereka sama-sama tidak
mengerti
bahwa
perubahan
situasi
emosi
yang
drastis itu disebabkan oleh datangnya kehamilan, percekcokan bisa tersulut dengan cepat sebagaimana api yang membakar rumput kering. Akibatnya,
hubungan suami dengan istri akan renggang. Masing-masing
menyimpan perasaan yang tidak mengenakkan.
Datangnya kehamilan
dan
masa nyidam itu adakalanya pada bulan
ketiga
pernikahan, adakalanya dua tahun kemudian. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan istri sudah mengandung setelah satu bulan menikah.
Nah, jika Anda masih menginginkan suasana pengantin baru, apa yang sebaiknya
Anda lakukan
bersama istri Anda yang mulai mengandung?
Silakan Anda jawab sendiri. Mumpung
masih pengantin baru.
Catatan Kaki:
1. Ustadz
Hari
Moekti
sempat
menceritakan pengalaman-nya berumah tangga pada kesempatan
acara
bedah
buku
"Seni
Dalam
Pandangan
Islam" karya Abdurrahman Al-Baghdadi
di Fakultas Sastra UGM. Cerita serupa juga dikemukakan ketika menjadi pembicara pada seminar Memaksimalkan Kecerdasan Anak yang diselenggarakan oleh Unpas, Bandung awal Juli lalu.
2. Soal bagaimana perubahan pandangan itu mengubah juga kehidupan pernikahannya, lebih baik Anda bertanya
langsung kepada Ustadz Hari Moekti sehingga memperoleh penjelasan yang lebih baik dan lebih jernih. Di atas segala-galanya, tentu saja hanya Allah 'Azza wa Jalla sumber segala kebahagiaan dan Dia-lah yang memberi kebahagiaan
kepada siapa pun yang Dia Kehendaki. Wallahu A'lam bishawab.
3. Bibit perselisihan
bersifat
latent
(tersembunyi)
karena pada masa
ini
keindahan sebagai pengantin baru menutupi
berbagai
"ketidaksesuaian
kecil". Di sinilah
permaafan dan permakluman dibutuhkan
agar hal yang
tidak mengenakkan tidak menjadi bibit perselisihan yang sewaktu-waktu bisa
meledak. Setelah masa pengantin baru
usai, rumah
tangga
masih penuh kesejukan. Rumah terasa lapang dan damai, meskipun secara
fisik sempit. Masalahnya, persoalan hubungan antara suami dan istri
tidak sesederhana menuliskan kata permaafan dan permakluman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar