Awalnya dari niat. Kelak Allah akan menilainya
dan memberikan barakah
sesuai dengan niatmu. Kalau niatmu menikah
karena ingin menjawab pertanyaan Rasulullah tentang apa yang menghalangi
seorang mukmin untuk mempersunting istri, insya-Allah
engkau akan
mendapati anak-
anak yang memberi
bobot
kepada bumi dengan
kalimat laa
ilaha
illaLlah. Jika engkau tidak tahu betul bagaimana mendidik anakmu, Allah yang akan mendidiknya.
Allah yang
akan
memberikan
ilmu
melalui kekuasaan-Nya. Banyak cara
Allah
membaguskan hamba-hamba-Nya. Banyak
cara Allah menjadikan seorang
hamba terangkat tinggi karena niatnya melalui
anak-anak yang mereka
lahirkan. Padahal mata kita yang penuh teori, semula memandang proses perkembangan anak-anak itu sebagai kesalahan.
Sungguh, sangat sedikit ilmu yang dimiliki manusia.
Awalnya dari niat. Maka, atas dasar apakah engkau menikahi istrimu? Jika gadis yang engkau pinang itu cantik,
apakah
engkau
menikahinya
karena
mengharap
keindahan dan wajah yang mengesankan? Ataukah, karena
khawatir kecantikannya dapat membuatmu terjerumus kepada maksiat, lalu engkau berusaha dengan
sungguh- sungguh untuk segera
menikahinya demi menjaga
kehormatan farjimu berdua.
Beda sekali
antara keduanya. Yang pertama dapat mendatangkan kekecewaan setelah menikah. Pernikahan sangat sedikit
barakahnya. Sedang yang kedua, insya- Allah
akan dipenuhi barakah dari Allah yang terus
melimpah.
Ketika engkau
melihat calon istrimu
memiliki ilmu agama yang bagus, atas dasar apakah engkau memilihnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkecukupan, atas
dasar apakah engkau meminangnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkekurangan, atas dasar apakah
engkau memintanya kepada kedua
orangtuanya.
Awalnya adalah niat. Maka aku bertanya kepadamu
wahai istriku, apakah yang
menggerakkan hatimu untuk mempercayakan kesetiaanmu padaku?
Aku bertanya kepadamu karena niat akan menentukan apa yang akan engkau
dapatkan kelak setelah kita menikah, dan kelak setelah kita tiada. Ketika kita sama-sama menjadi jenazah.
Niatmu akan mempengaruhi bagaimana engkau
merasakan arti
saat-saat
berdekatan, keindahan saat bersama,
keadaan hati saat menghadapi masalah, sampai bagaimana engkau merasakan arti darah setetes ketika melahirkan, juga ketika harus bangun
saat
anakmu terbangun dari tidurnya.
Semua berawal dari niat. Niat ketika
menerima pinangan,
niat ketika memasuki jenjang pernikahan, niat ketika menghabiskan saat-saat berdua,
niat ketika berhias, niat ketika memuji suami, dan niat ketika akan melakukan
berbagai hal. Niat-niat
itu bisa menambah barakah dan memperbaiki kesalahan niat sebelumnya, bisa
mengurangi barakah dari
apa yang sebelumnya telah engkau terima atau engkau berikan
kepada suami.
Awalnya dari niat.
Aku mendengar, kata Umar
bin
Khaththab r.a., Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya amal perbuatan
itu (dinilai) hanya berdasarkan niatnya (innamal a'malu binniyyati) --di dalam riwayat
lain: berdasarkan niat-niatnya-- dan sesung- guhnya
setiap orang hanya
memperoleh apa yang ia niatkan; barangsiapa yang hijrahnya (diniatkan) kepada
Allah dan Rasul-Nya maka (nilai)
hijrahnya adalah
kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya (diniatkan) kepada dunia yang ingin diraihnya
atau perempuan yang ingin dinikahinya maka (nilai) hijrahnya adalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya itu." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi dan An-Nasa'i, shahih).
Innamal a'malu binniyati, kata Rasulullah Saw. dalam hadis tersebut. Mungkin
kita semua sudah pernah mendengar hadis ini. Barangkali malah sudah sangat sering mendengar. Kadang malah menjadi alasan bagi sebagian orang untuk memaafkan diri sendiri ketika melakukan perbuatan keliru. Dalilnya, bukankah setiap
perbuatan
dinilai berdasarkan niatnya? Aku ingatkan kepada diriku sendiri, bukan demikian itu
yang disebut niat. Bukan. Niat yang sesungguhnya melandasi perbuatan, bukanlah apa yang dengan mudah engkau ucapkan lalu engkau hapus di saat lain yang engkau kehendaki. Kalau seorang gadis
memintamu untuk memboncengkannya sedangkan
engkau sudah lama sekali
menginginkan, maka tidak bisa engkau menyertainya dengan niat menolong sebagai sesama muslim meskipun niat itu engkau
ucapkan berulang-ulang. Bukankah
hatimu sendiri sudah gelisah dan tidak
tenang?
Aku ingatkan kepada diriku sendiri dan orang-orang yang aku cintai, mintalah kepada Allah penjagaan niat dari kotoran-kotoran yang tidak engkau ketahui dan kebusukan
yang
tidak
mampu
engkau
hilangkan
sendiri saat ini.
Semoga
Allah mengampunimu dan memperbaiki niat kita.
Dengarkanlah keterangan Imam Al-Ghazali
rahimahuLlah. Beliau
mengatakan, barangkali ada orang bodoh mendengar perkataan
kami tentang niat. Lalu ia berkata,
"Aku berdagang karena Allah", atau "Aku
makan karena Allah". Jauh, amatlah jauh.
Hal itu hanya perkataan diri dan perpindahan dari satu pikiran ke pikiran yang lain. Niat jauh dari yang demikian. Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungannya pada apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya,
baik secara segera maupun ditangguhkan.
---
Pelacur itu kemudian datang
meminta untuk
dinikahi demi membersihkan diri.
Dari pernikahan itu lahir tujuh orang anak yang shaleh. Begitu
cerita Zadan dari
Ibnu Mas'ud
dari Salman
Al-Farisi.
---
Selama kecenderungan itu tidak ada di dalam batin, kata Imam
Al-Ghazali melanjutkan, tidak
mungkin diusahakan, diciptakan
dengan usaha, dan dipaksakan. Melainkan hal itu, hasilnya kembali kepada perpindahan pemikiran dari sesuatu ke sesuatu yang lain. Seperti
seorang yang kenyang
berkata, "Aku telah berniat untuk lapar," atau "Aku berniat
untuk makan disebabkan lapar," Atau orang
yang gelisah
berkata, "Aku telah berniat untuk
mencintai
seseorang," atau "Aku
telah
berniat
memuliakan seseorang." Hal ini tidak muncul di dalam batinnya, dan itu mustahil. Selama tidak muncul
motif hal itu, maka tidak
akan ada kebangkitan jiwa, karena kebangkitan jiwa merupakan tanggapan
(respons) terhadap
motif dan tujuan
yang muncul. Contohnya adalah menikah, kata Imam Al-Ghazali.
Orang yang dikuasai
syahwat dan ingin menikah, kemudian hendak memaksakan diri berniat
mengikuti Rasulullah Saw. dan sunnahnya, serta berniat mendapatkan
anak yang shaleh. Hal itu tidak
mungkin terjadi karena tidak muncul motif-motif ini dari batinnya. Melainkan di dalam batinnya
hanya ada syahwat
semata.
Demikian penjelasan Imam Al-Ghazali dalam buku Mutiara Ihya' 'Ulumuddin.
Wallahu A'lam bishawab.
Awalnya dari niat. Nikah juga diawali dengan niat. Niat yang baik dan jernih akan
mendekatkan kepada
barakah. Semakin baik niat kita, insya-Allah semakin barakah rumah tangga kita, sekalipun kita
tidak bisa menunaikan seluruh
perkara yang kita niatkan dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau kita tidak bisa mengamalkan apa yang sudah kita niatkan dengan sungguh-sungguh,
maka bagi kita apa yang kita
niatkan. Allah menyempurnakan apa yang kita niatkan, sekalipun
kita tidak bisa melaksanakan.
Tetapi beda sekali antara
niat yang sungguh-sungguh kuat dengan mengada- adakan
niat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari
ghurur
(terkelabui).
Kita
menyangka kita punya niat, padahal hanya angan-angan yang kemudian kita jelaskan dengan akal.
Adapun jika engkau telah berniat dengan niat yang baik, maka berbahagialah,
sebab Rasulullah Saw.
bersabda, "Niat orang mukmin
lebih
baik
daripada
perbuatannya. Sementara niat orang fasik lebih jelek
daripada perbuatannya."
Maka marilah kita meniatkan satu kebaikan di dalam pernikahan. Niat mendidik
anak dengan sebaik-baik pendidikan. Niat menetapkan satu sunnah hasanah dalam keluarga. Niat untuk melaksanakan perbuatan yang mendatangkan barakah
bagi kita beserta istri (suami) kita. Niat untuk memuliakan
istri dengan perkataan yang lembut, bukan
kasar dan menyakitkan. Serta niat lain.
Satu niat saja yang sungguh-sungguh ingin kita kerjakan,
insya-Allah menjadi
pintu barakah, kebaikan berlipat-lipat yang terus berkembang. Hanya Allah yang berhak menentukan
kebaikan apa yang dikaruniakan kepada kita di dunia dan akhirat.
Sesungguhnya Allah adalah
sebaik-baik Pemberi
Kebaikan. Maha Suci Allah dari segala
keburukan yang diangan-angankan oleh akal yang keruh.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah
--dalam apa yang diriwayatkan
dari Rabbnya-- bersabda, "Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan, kemudian
menjelaskan
hal
tersebut (di dalam kitab-Nya); barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi dia tidak
mengerjakannya maka Allah
menulisnya
di
sisi-Nya
satu
kebaikan yang utuh,
jika
dia meniatkannya kemudian
dia melakukannya maka Allah menulisnya di sisi-Nya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus sampai berlipat-lipat ganda. Dan barangsiapa berniat (melakukan) keburukan
tetapi dia tidak mengerjakannya maka Allah
menulisnya di sisi-Nya satu kebaikan yang utuh, dan jika
dia
meniatkannya
kemudian
dia
mengerjakannya maka Allah menulisnya satu keburukan".
Dalam riwayat lain Ibnu Abbas menambahkan, "Atau Allah menghapuskannya dan tidaklah berniat jahat kepada Allah kecuali orang yang binasa." (HR Bukhari & Muslim, shahih).
Akan tetapi,
"Barangsiapa tidur dan dalam hatinya ada niat untuk mengkhianati (menipu)
orang Islam, ia tidur dalam kemurkaan Allah. Ia memasuki waktu subuh juga dalam kemurkaan Allah kecuali bila ia mati atau bertaubat.
Jika ia mati dalam keadaan
itu, maka ia mati bukan dalam agama Islam. Ketahuilah
siapa yang mengkhianati kami, ia bukan golongan
kami (Nabi Saw. menyebutkan hal ini
sebanyak tiga kali)."
Nah, sekarang ketika akan menikah, apa niat Anda?
NIAT KETIKA MENIKAH
Sebagian pernikahan menjadi penuh barakah karena niat awal ketika
memutuskan untuk menikah.
Al-Idris Asy-Syafi'i
menikah
semata karena ingin mendapatkan ridha dari
pemilik pohon delima atas apa yang ia makan. Ia bersedia menikah
asal delima yang sudah dimakannya diikhlaskan dan pemiliknya ridha. Maka ia menikah dengan
Fathimah, putri pemilik pohon
delima itu. Dari rahim istrinya,
lahir Muhammad bin Idris yang kelak dikenal sebagai
Imam Syafi'i karena keutamaan ilmu dan
akhlaknya. Pernikahan
Al-Idris melahirkan
anak
yang
sangat
penuh
barakah. Sampai sekarang kita masih mengambil ilmu dari apa yang diwariskan oleh Imam Syafi'i, buah pernikahan
Al-Idris dan Fathimah yang diridhai.
Ada contoh lain pernikahan karena menjaga diri dari hal yang meragukan, semata-mata demi
mencapai keselamatan akhirat. Imam Bukhari dalam hadis shahihnya
pernah meriwayatkan sebuah
cerita dari Rasulullah.
"Seorang
laki-laki,"
kata
Rasulullah
Saw.,
"membeli
sebidang
tanah
dan menemukan sebuah tempayan
berisi emas dalam tanah
itu. Katanya kepada
si penjual,
'Ambillah emasmu,
karena hanya tanah yang saya beli dari engkau dan saya tidak membeli emas'. Kata yang punya tanah,
'Tanah itu beserta
isinya telah saya jual
kepada engkau'. Keduanya
lalu minta putusan kepada seseorang. Kata orang itu,
'Adakah kamu berdua mempunyai anak?' Seorang di antara mereka berkata, 'Ya, saya
mempunyai seorang anak laki-laki'. Kata yang seorang
lagi, 'Ya, saya mempunyai
seorang anak perempuan'. Kata hakim tadi, 'Kawinkanlah anak perempuan
itu dengan anak laki-laki ini dan belanjailah dengan keduanya dari harta itu dan bershadaqahlah'." (HR Bukhari dalam
shahihnya, hadis No. 1513).
Suatu ketika
seorang pemuda ahli 'ibadah mendatangi pelacur
karena desakan keinginan yang kuat. Setelah berada
dalam kamar berdua
dengan pelacur itu, ia merasakan ketakutan yang amat sangat mengingat
pengawasan Allah yang tak pernah lepas
serta kedudukannya di hadapan
Allah. Maka ia
berkeringat dan pucat karena takutnya. Ia meninggalkan
tempat
pelacuran
itu
dan
tidak
mengambil
uangnya kembali, meskipun pelacur itu berusaha menahannya.
Setelah pemuda itu pergi, pelacur itu merenung. Seharusnya dialah yang lebih takut kepada
Allah mengingat perbuatan-perbuatannya. Maka ia berniat bertaubat dan mencari pemuda itu agar
dinikahi. Tetapi
ketika
sampai,
ia
dapati
pemuda
itu
meninggal seketika karena rasa takutnya
saat melihat kedatangan pelacur
itu.
Maka
ia bertanya, "Adakah 'Abid (ahli 'ibadah)
ini mempunyai saudara laki-laki
yang belum menikah?"
Orang-orang menunjukkan saudaranya yang juga seorang ahli
'ibadah, tetapi sangat miskin. Ia kemudian
datang meminta untuk dinikahi demi membersihkan diri. Dari pernikahan
itu lahir tujuh orang anak yang shaleh. Begitu cerita Zadan dari Ibnu Mas'ud
dari Salman Al-Farisi.
Niat banyak mempengaruhi barakah tidaknya pernikahan. Sebagian
dari niat menikah, dijamin akan
penuh dengan barakah selama-lamanya. Istri barakah bagi
suami, suami barakah bagi istri.
Allah 'Azza wa Jalla insya-Allah juga memberi barakah yang sangat besar kepada seorang wanita yang
menyerahkan
diri
kepada
laki-laki
yang
ia
mantap
dengan akhlak dan agamanya, semata
karena mengharapkan ridha-Nya atau karena ingin menjaga
diri dari dosa. Apalagi jika laki-laki itu seorang yang masih sendirian.
Rasulullah Saw. menjanjikan, "Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan
rezeki mereka, dan menambah keluhuran
mereka."
Sebagian orang menikah karena takut mati dalam keadaan membujang.
Ini yang pernah terjadi pada
Mu'adz bin Jabal r.a., salah seorang sahabat utama Rasulullah
Saw. Ketika dua orang istrinya meninggal dunia pada waktu menjalar wabah pes, sedangkan ia sendiri mulai kejangkitan, maka ia berkata, "Kawinkanlah aku. Aku khawatir
akan meninggal dunia dan menghadap Allah dalam keadaan tak beristri."
Ibnu Mas'ud pernah mengatakan, "Seandainya tinggal sepuluh
hari saja dari
usiaku, niscaya aku tetap ingin kawin. Agar aku tak menghadap Allah dalam keadaan
masih bujang."
Ada lagi niat-niat menikah
yang insya-Allah dimuliakan dan baginya barakah yang melimpah sampai yaumil-qiyamah. Anda bisa membaca berbagai sumber atau
bertanya kepada orang yang
mempunyai hikmah. Atau, Anda bisa bertanya kepada hati nurani Anda sendiri.
Niat
Ketika Memilih Pendamping
Ada pernikahan yang tidak akan pernah diberi
barakah karena niat orangtua ketika
memilih suami bagi anak gadisnya yang salah. Rasulullah Saw. mengingatkan, "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu akan dibarakahi-Nya."
Pernikahan yang demikian ini kering
dan hampa, kecuali jika istri bersedia untuk bermujahadah (berjuang) untuk membawa
suami kepada kelurusan agama.
Ia
"berzuhud" terhadap harta dan kedudukan
suami. Tetapi ia menunjukkan kelembutan saat mengajak suami
kepada
kejernihan hati. Ia bisa
tegas
di
saat
lain
dalam menyikapi apa yang kurang tepat, tetapi tidak menunjukkan sikap keras dan perkataan yang menyakitkan. Ia berzuhud dari kebaikan suami
dalam perkara dunia karena menjaga agar tidak lemah dan dilemahkan secara
fisik maupun psikis. Al-ihsanu yu'jizul insan. Sesungguhnya kebaikan
itu
melemahkan
(mematikan) manusia. Masalahnya, adakah wanita yang seperti itu manakala orangtua menikahkan karena silau terhadap
kekayaan seorang laki-laki?
Tidak mudah bersikap
seperti itu. Apalagi,
kalau semenjak awal tidak disadari.
Wallahu A'lam bishawab.
Dari
Anas
r.a., Rasulullah Saw. bersabda,
"Siapa yang menikahi
seorang wanita karena
kedudukannya, Allah hanya akan menambah kehinaan kepadanya;
siapa yang menikahinya karena kekayaan,
Allah hanya akan memberinya kemiskinan; siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambah kerendahan padanya. Namun, siapa yang menikah
karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau
karena ingin
mempererat
kasih-sayang, Allah akan senantiasa membarakahi dan menambah
kebarakahan itu
kepadanya." (HR Ath-Thabrani).
Dari 'Abdullah bin Amr r.a., Rasulullah
Saw bersabda, "Janganlah kamu
menikahi seorang wanita karena kecantikannya, mungkin saja
kecantikan
itu
membuatnya hina. Janganlah kamu menikahi seorang wanita karena
hartanya,
mungkin saja harta itu membuatnya melampaui batas. Akan tetapi nikahilah seorang
wanita karena
agamanya.
Sebab, seorang wanita yang shaleh,
meskipun
buruk wajahnya adalah lebih utama." (HR Ibnu Majah).
Ada hadis yang sangat populer
tentang menentukan
kriteria wanita yang akan dinikahi.
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah
Saw.
bersabda,
"Biasanya
wanita
dikawini karena
empat (hal):
karena hartanya, karena
kebangsawanannya, karena kecantikan, dan karena
agamanya
(akhlaknya).
Maka pilihlah yang beragama (berakhlak) semoga
beruntung usahamu." (HR
Bukhari & Muslim, shahih).
Muhammad Fuad 'Abdul Baqi yang mengkompilasi hadis-hadis shahih yang disepakati Bukhari
dan Muslim dalam
Al-Lu'lu' wal Marjan mengatakan, "Arti taribat yadaaka (engkau akan rugi dan miskin jika Anda tidak mengikuti
tuntunan ini), yakni jika
Anda
kawin
dengan
wanita
yang
tidak
beragama
(berakhlak)
niscaya
akan menjadi
fakir miskinlah Anda, yakni tidak akan bahagia dalam hidup.”
Sebagaimana seorang laki-laki yang
akan
meminang,
seorang wanita yang berkeinginan untuk menyerahkan diri kepada laki-laki untuk
dinikahi
juga
perlu memperhatikan niatnya
memilih laki-laki itu. Menawarkan diri karena terkesan
oleh kekayaan dan ketampanan, hanya akan melahirkan penderitaan psikis yang berkepanjangan kelak
setelah madunya tak manis lagi.
Kalau
Anda menikah, Anda bisa meminang wanita yang masih gadis. Bisa juga seorang
janda. Insya-Allah pernikahan Anda akan barakah jika
Anda memilih istri yang masih gadis atas
pertimbangan sunnah
Rasulullah Saw. atau apa yang
dimaksudkan dalam sunnah
itu,
yakni
Anda bisa
bercanda, bercumbu, saling menggigit dan tertawa bersama. Anda memilih
yang masih gadis karena hatinya belum pernah terpaut pada orang lain, sehingga
kasih-sayangnya lebih penuh.
Pertimbangan-pertimbangan
semacam ini bisa Anda lihat pada berbagai
hadis. Di antaranya hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari maupun Imam
Muslim.
Masih berkenaan
dengan gadis, mungkin Anda memilih yang masih belia karena
cintanya lebih hangat, kasih sayangnya lebih
tulus
dan
lebih
sedikit tipuannya, disamping lebih rela terhadap belanja yang sedikit.
Mungkin juga Anda memilih
gadis yang sudah beranjak tua usianya untuk menolongnya dan menyelamatkan kehormatan agama. Yang demikian ini
insya-Allah justru besar barakahnya.
Pernikahan yang penuh barakah insya-Allah juga Anda dapatkan ketika memilih untuk menikah
dengan
seorang
janda
karena mengharapkan dia dapat merawat, mendidik,
dan mengasihi anak-anak dan saudara-saudara Anda yang masih perlu
penjagaan dan kasih sayang. Rasulullah Saw. pernah mendo'akan
Jabir bin 'Abdullah
ketika menikahi seorang
janda dengan harapan bisa merawat adik-adik perempuannya yang masih kecil, setelah ayahnya meninggal. Ketika itu Rasulullah Saw. mendo'akan,
"Barakallah (semoga Allah membarakahi)."
atau "Khaira (baik saja)."
(HR Bukhari & Muslim dalam Al-Lu'lu' wal Marjan, hadis
No. 930).
Masih ada. Jika Anda memiliki pembantu, insya-Allah Anda akan mendapati pernikahan yang sangat penuh
barakah dengan menikahi
pembantu Anda setelah memberikan pendidikan sehingga dia matang, siap untuk
menjadi istri dan ibu.
Khath Arab
Abu Musa r.a. berkata: Rasulullah
Saw. bersabda, "Siapa yang memiliki jariyah (hamba wanita, pembantu), lalu dipelihara dengan
baik, kemudian dimerdekakan dan dikawini, maka
ia
mendapat pahala
dua
kali
lipat."
(HR
Bukhari
&
Muslim, shahih).
Wallahu A'lam bishawab.
Niat
dalam Urusan Pernikahan
Masalah niat tidak berhenti sampai saat memilih pendamping. Sesudah pinangan
datang dan
kata
sepakat
dari dua
keluarga sudah
tercapai
bahwa
mereka akan
mengikat tali
kekeluargaan
melalui anaknya
masing-masing,
niat masih terus menyertai dalam berbagai
urusan yang berkenaan dengan terjadinya
pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan
walimah, penyelenggaraan walimah sampai dengan waktu yang dihabiskan untuk menyelenggarakan walimah. Walimah lebih
dari dua hari dekat kepada madharat. Walimah hari ketiga
termasuk riya'.
Proses
pernikahan dapat mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah, insya-Allah akan mendekatkan orang kepada bersihnya niat. Memudahkan proses pernikahan
bisa
menjernihkan niat
yang
sebelumnya
masih
keruh. Sedang mempersulit dapat merusak
niat yang sebelumnya sudah cukup
bersih.
Saya kira Anda
dapat memikirkan
lebih jauh masalah itu. Mudah-mudahan Allah Ta'ala meluruskan niat kita dalam menempuh urusan pernikahan seluruhnya. Mudah- mudahan Allah membaguskan hati kita
dan mengampuni kesalahan-kesalahan hati
kita dalam menempuh pernikahan, khususnya bagi yang telah menikah. Mudah- mudahan
Allah memaafkan apa yang belum bersih dan menggantikannya dengan keikhlasan dan sakinah.
MASIH ADA NIAT SESUDAH AKAD NIKAH
Sesudah akad nikah, ada kesempatan untuk
memeriksa
kembali
niat
ketika
hendak melangkah
ke pelaminan. Bahtera rumah tangga mulai mengarungi lautnya.
Sebelum berlayar jauh, kita
bisa beristighfar bersama-sama atau apa pun yang baik
untuk kejernihan hati. Saya perlu menggarisbawahi tambahan
kata-kata "atau
apa pun yang baik" karena perkara ini tidak termasuk perkara
yang wajib, sehingga saya khawatir jika ini dianggap wajib. Istighfar
atau apa pun kalimat-kalimat thayyibah itu tidak wajib,
hanya
bersifat
sebagai
ikhtiar
untuk
mencapai
kemaslahatan.
Jika dianggap wajib, saya khawatir justru saya berdosa
karenanya.
'Alaa kulli hal, masih ada niat sesudah akad nikah. Niat yang baik setelah mengarungi bahtera rumah tangga,
insya
Allah
dapat
memperbaiki
kesalahan- kesalahan niat sebelumnya.
Mudah-mudahan Allah menjadikan rumah
tangga kita penuh barakah.
Masih ada niat sesudah
hidup bersama. Niat ketika
berhias maupun niat ketika berhubungan intim. Niat Umar bin Khaththab
radhiyallahu 'anhu adalah salah satu contohnya. Beliau pernah berkata, "Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh
dengan harapan Allah
akan
mengaruniakan
dariku
makhluk
yang akan bertasbih dan mengingat-Nya."
Pembahasan
lebih
lanjut
mengenai berbagai hal yang
berkenaan
dengan
hubungan intim suami istri insya-Allah akan kita bicarakan
pada bab Keindahan Suami Istri di jendela
kedua buku kita ini.
Hujan Itu Mensucikan Bumi
Adakalanya niat kita ketika hendak menikah masih belum bersih,
kemudian Allah memberikan kasih sayang-Nya. Allah memberikan berbagai
keadaan sehingga kita mensucikan
niat
kita.
Allah menurunkan peristiwa-peristiwa sehingga
kita
mengetahui kekotoran niat kita yang selama ini tersembunyi dari pengetahuan kita sendiri.
Adakalanya niat seseorang
sudah bersih, kemudian
Allah menguji kesungguhan niatnya. Allah memberikan ujian, sehingga tampak apakah
ia bersungguh-sungguh dengan niatnya. Sehingga
tampak apakah ia tetap
berpegang pada tali-Nya di saat menghadapi kesulitan. Sehingga semakin
kokoh niatnya kalau ia tetap memegangi niatnya.
Yang demikian ini insya-Allah akan membuat niatnya lebih dekat kepada
barakah dan tidak mudah luntur oleh
keadaan sesudah menikah.
"Dan Allah (berbuat demikian)
untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati." (Q.S. Ali 'Imran: 154).
Sebagian orang ridha terhadap apa yang terjadi,
sehingga Allah menambah kemuliaan dan barakahnya. Sebagian
merasa kecewa kepada Allah.
Sebagian lagi merasa kecewa, kemudian memperbaiki hati setelah menyadari kesalahan- kesalahannya.
Adakalanya Allah mensucikan
bumi dengan menurunkan hujan.
Dalam hujan ada kilat
dan petir. Sebelum hujan ada mendung tebal yang membuat gerah orang- orang di muka bumi. Sayangnya, seringkali kita salah sangka. Kita sering tidak bisa membedakan
antara
panasnya
terik
matahari dengan
gerahnya
awan tebal
yang mengawali
hujan penuh rahmat.
Pensucian niat bisa juga terjadi
karena bertambahnya
ilmu. Ketika seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai agamanya,
akhirnya ia mengenali kekeruhan-kekeruhan niat yang selama ini tidak diketahuinya. Oleh karena
itu, suami- istri tetap perlu mencari
ilmu setelah berumah tangga. Mudah-mudahan mereka dapat menjadi
suami-istri yang penuh barakah. Mudah-mudahan mereka
dapat menjadi
orangtua yang penuh barakah, melahirkan keturunan yang memberi
bobot kepada bumi dengan
kalimat laa ilaaha illaLlah
melalui pernikahan mereka.
Allahumma amin.
Wallahu A'lam bishawab.
Mudah-mudahan Allah memperbaiki niat kita. Mudah-mudahan Allah melepaskan kita dari ghurur
(terkelabui) atas perkara-perkara yang kita sangka niat
kita, padahal hanya angan-angan
yang kita jelaskan dengan
akal saja.